KAJIAN

DETAIL KAJIAN

Siapakah Anak Yatim Itu ?

 

Islam agama yang paling sempurna telah banyak mengajarkan kepada para pemeluknya banyak kebaikan agar mereka dapat mendekati dan mengerjakannya. Dan begitu juga telah memaparkan banyak keburukan supaya mereka dapat menjauhi dan meninggalkannya.

Karena tidaklah sesuatu yang Allah ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam ajarkan suatu kebaikan melainkan di dalamnya terdapat banyak kebaikan bagi yang mengamalkanya dan terdapat keburukan bagi yang meninggalkannya. Begitu juga tidaklah sesuatu keburukan yang Allah Azza wa Jalla dan Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam jelaskan dan larang bagi umatnya melainkan di dalamnya terdapat keburukan bagi yang masih mengamalkannya dan juga terdapat kebaikan bagi yang telah meninggalkannya.

Diantara perkara yang dianjurkan dan diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam ajaran Islam adalah memberikan manfaat bagi orang lain dalam hal kebaikan. Sedangkan kebaikan itu adalah hal-hal yang telah termaktub di dalam Alqur’an dan hadits-hadits yang shahih sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama salaf ash-Shalih.

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. [HR ad-Daruquthniy di dalam al-Afrad, ath-Thabraniy, Adl-Dliya’ al-Muqaddisiy dan al-Haitsamiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. 

Orang yang paling banyak mengharap manfaat dan bantuan kebaikan dari orang lain di antaranya adalah anak-anak yatim, para janda, orang-orang fakir dan miskin dan yang semisal mereka.

Di dalam pembahasan singkat ini, hanya akan dibahas anjuran dan perintah ajaran Islam untuk berbuat baik, bersikap santun, menyayangi, membantu, memperhatikan dan menjamin kebutuhan anak-anak yatim saja.

SIAPAKAH ANAK YATIM ITU

Seorang anak dikatakan yatim jika ayahnya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarganya dalam mencari penghidupan selama ini telah wafat dan anak tersebut belum mencapai usia baligh.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah bahwa yatim itu ialah anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum mencapai usia baliqh, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun anak yang tinggal mati ibunya sebelum baliqh maka bukanlah anak yatim, tidak menurut bahasa apalagi menurut syariat. Sebab kata yatim terambil dari kata yatmu yang artinya terpisah dan sendiri. Maksudnya, terpisah dari orang yang mencarikan (penghidupan) buatnya. Sebab ayahnyalah yang mengusahakan (penghidupan) baginya. Hal semisal juga yang dikatakan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. 

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Yatim adalah seseorang yang telah wafat ayahnya sedangkan ia masih kecil dan belum mencapai usia baligh”. 

Dari Ali bin Abu Thalib radliyallahu anhu berkata, ‘Aku telah menghafal dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ وَ لَا صُمَاتَ يَوْمٍ إِلَى اللَّيْلِ

“Tidak disebut lagi anak yatim bila sudah bermimpi (baligh) dan tidak boleh berdiam (yaitu tidak berbicara) selama satu hari sampai menjelang malam”. [HR Abu Dawud: 2873. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. 

            Jadi seseorang yang ditinggal wafat oleh ayahnya sedangkan ia telah mencapai usia baligh maka ia tidak disebut lagi sebagai anak yatim meskipun ia dalam keadaan hidup berkekurangan.

            Atau juga tidak disebut yatim seorang anak yang ditinggal wafat oleh ibunya dan ayahnya masih hidup. Sebab sebagaimana telah diketahui bahwa yang berkewajiban memenuhi kebutuhan hidup anak adalah ayahnya bukan ibunya.

            Begitu pula seorang anak tidak disebut yatim jika kedua orang tuanya bercerai lalu ia ikut dengan ibunya dan ditinggal kabur oleh ayahnya yang tidak bertanggung jawab tersebut. Karena pada kenyataannya ayahnya masih hidup namun tidak mau menjamin kehidupannya sebagaimana banyak terjadi di masyarakat.

PERINTAH BERBUAT BAIK KEPADA ANAK YATIM

Banyak dalil dari Alqur’an yang mulia dan hadits-hadits shahih yang menjelaskan perintah berbuat baik kepada anak-anak yatim. Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat menjaga hak anak yatim dan kaum wanita, sebab mereka adalah termasuk dari kalangan kaum lemah yang harus dilindungi dan diperhatikan hak-hak mereka.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku akan menetapkan sanksi atas hak dua orang yang lemah, yaitu hak anak yatim dan hak wanita”. [HR. Ahmad: II/ 439, Ibnu Majah: 3668, al-Hakim, Ibnu Hibban dan an-Nasa’iy di dalam as-Sunan al-Kubra. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat wasiat (untuk berbuat baik) kepada kaum dlu’afa (kaum lemah) yang tidak sanggup untuk berusaha dari kalangan kaum wanita dan anak-anak yatim dan tidak boleh pula merintangi mereka. Karena mereka senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan bernaung dengan kekuatan-Nya. Maka barangsiapa yang merintangi mereka maka ia berhak mendapatkan dosa dan siksaan”.

            Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Semua hadits-hadits ini menunjukkan kandungan untuk bersikap lemah lembut kepada kaum dlu’afa, anak-anak yatim, anak-anak perempuan dan yang semisal mereka”. [7]

وَ اعْبُدُوا اللهَ وَ لَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَ بِاْلوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَ بِذِى اْلقُرْبَى وَ اْليَتَامَى وَ اْلمـَسَاكِينِ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin….”. [QS. an-Nisa/ 4: 36].

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِى إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللهَ وَ بِاْلوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَ ذِى اْلقُرْبَى وَ اْليَـَامَى وَ اْلمـَسَاكِينِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”.[QS al-Baqarah/ 2: 83].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Disyariatkannya untuk mengingatkan manusia dan menashihati mereka dengan sesuatu yang dapat menyebabkan mereka mendapatkan hidayah. Wajibnya mengibadahi Allah dan mentauhidkan-Nya. Wajibnya berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin”. 

ANJURAN MEMBERI MAKAN DAN KEBUTUHAN KEPADA ANAK YATIM

وَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَ يَتِيمًا وَ أَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. [QS al-Insan/ 76: 8].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat targhib (motivasi) untuk memberi makanan kepada orang-orang yang membutuhkannya dari orang fakir, anak yatim dan tawanan”. 

وَ مَا أَدْرَاكَ مَا اْلعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ أَوْ إِطْعَامٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ أَوْ مِسْكَينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) membebaskan budak, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir”. [QS al-Balad/ 90: 12-15].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Memberi makan pada hari kelaparan yaitu kepada anak yatim yang memiliki kekerabatan atau kepada orang miskin yang sangat fakir yaitu yang dekat tempatnya karena kebutuhannya dan sangat fakirnya”. 

لَيْسَ اْلبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ اْلمـَشْرِقِ وَ اْلمـَغْرِبِ وَ لَكِنَّ اْلبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلأَخِرِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ اْلكِتَابِ وَ النَّبِيِّينَ وَ ءَاتَى اْلمـَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِى اْلقُرْبَى وَ اْليَتَامَى وَ اْلمـَسَاكِينَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin”. [QS al-Baqarah/ 2:177].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan akan sasaran berinfak yang diharapkan mendapatkan pahala pada hari kiamat adalah kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan seterusnya”.

يَسْأَلُونَكَ مَا ذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَ اْلأَقْرَبِينَ وَ اْليَتَامَى وَ اْلمـَسَكِينِ وَ ابْنِ السَّبِيلِ

 “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, …”. [QS al-Baqarah/ 2: 215].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat keutamaan berinfak kepada orang-orang yang disebutkan di dalam ayat (yaitu kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang dalam perjalanan), jika orang yang berinfak itu adalah orang kaya dan mereka adalah orang-orang fakir lagi membutuhkan (bantuan)”. 

Beberapa dalil Alqur’an beserta penjelasannya di atas menerangkan akan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala untuk senantiasa memperhatikan dan membantu anak-anak yatim dengan menyediakan infak atau sedekah untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, pakaian dan pendidikan mereka. Terutama anak-anak yatim dari hubungan kekerabatan dengannya, apakah mereka itu anak dari kakak atau adiknya yang lelaki ataupun perempuan, atau anak-anak dari kerabat lainnya.

Bahkan tidak hanya cukup dengan memenuhi kebutuhan mereka tetapi juga dengan mencurahkan kasih sayang kepada mereka. Hal itu dengan cara memeluk mereka, mengucapkan kata-kata yang lembut kepada mereka, mengusap kepala mereka dengan rasa kasih sayang, mengajarkan dan mendidik mereka dengan ajaran-ajaran Islam yang shahih dan lain sebagainya.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya ada seseorang pernah mengadukan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam akan kekerasan hatinya. Maka Beliau bersabda kepadanya,

      إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ اْلمـِسْكِيْنَ وَ امْسَحْ رَأْسَ اْليَتِيْمِ

            “Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim”. [HR Ahmad: II/ 263, 387 dan ath-Thabraniy di dalam Mukhtashor Makarim al-Akhlaq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]

Dari Muhammad bin Wasi’ al-Azdiy bahwasanya Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu pernah menulis surat kepada Salman al-Farisiy radliyallahu anhu, “Wahai saudaraku mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululluh Shallallahu bersabda ketika ada seseorang mengadu kepada Beliau akan kekerasan hatinya. Lalu beliau bersabda,

      أَدْنِ اْليَتِيْمَ وَ امْسَحْ رَأْسَهُ وَ أَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ  قَلْبُكَ وَ تُقْدَرْ عَلَى حَاجَتِكَ

            “Mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu akan lembut dan terpenuhi segala kebutuhanmu”. [HR al-Khara’ithiy di dalam Makarim al-Akhlaq dan Ibnu Asakir di dalam Tarikh Dimasyq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. 

Dalil hadits di atas menerangkan faidah bahwa memberi makan orang miskin dan memperhatikan kebutuhan anak yatim dengan mengusap kepalanya, berlemah lembut kepada mereka, mencukupi makan dan pakaiannya serta menanggung pendidikannya akan menyebabkan kelembutan hati bagi pelakunya dan dipenuhi segala kebutuhannya.

Bahkan jika ada seorang muslim yang menanggung dan menjamin kehidupan anak yatim dari memberi makan, pakaian, pendidikan dan selainnya maka kelak ia berada di dalam surga dan tinggal berdampingan dengan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalamnya. Beliau mengangkat tangannya lalu mengangkat jemarinya dan berisyarat dengan jari telunjuk dan tengahnya serta memisahkan keduanya.

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

                “Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.” Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya”. [HR Muslim: 2983 dan Ahmad: II/ 375. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Makna (لَهُ أوْ لِغَيْرِهِ) adalah kerabatnya ataupun ajnabi (orang lain). Sedangkan (yang termasuk) kerabat di sini, ialah ibu sang anak yatim, kakeknya, saudara laki-lakinya ataupun pihak-pihak selain mereka yang memiliki kekerabatan dengannya. Wallahu a’lam”. 

Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أنا وَ كَافِلُ اليَتِيْمِ في الجَنَّةِ هكَذَا

“Aku dan pemelihara anak yatim di surga nanti, kedudukannya seperti (dua jari) ini”. Dan Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memisahkan keduanya”. [HR al-Bukhoriy: 5304, 6005, di dalam al-Adab al-Mufrad: 133, 135, Abu Dawud: 5150, at-Turmudziy: 1918 dan Ahmad: V/ 333. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. 

Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Terdapat dorongan di dalam memelihara anak yatim dan menjaga harta mereka. Yang demikian itu akan menyebabkan masuk ke dalam surga dan menemani para Nabi, para siddiqin, para syuhada dan kaum shalihin. Dan mereka itu adalah sebaik-baik teman (yang menyertai)”. 

demikian kajian tentang anak yatim semoga bermanfaat

admin : Acep Kursina